Pendidikan

Perkembangan Seni Sastra

Perkembangan Seni Sastra

Perkembangan Seni Sastra

Perkembangan Seni Sastra

Istilah ‘sastra’ memiliki arti tulisan

Secara lebih luas, sastra dapat diartikan pembicaraan tentang berbagai tulisan yang indah bentuknya dan mulia isinya. Keindahan bentuk hasil sastra yang kemudian lazim disebut sebagai karya sastra terlihat dari puisi, prosa, lirik prosa, drama, maupun bentuk karya sastra yang lain, baik yang tergolong ke dalam sastra kuno, masa peralihan, sampai sastra modern, bahkan sastra kontemporer pada masa mutakhir.

Ditilik dari segi bentuk, karya sastra adalah sesuatu yang dapat menyenangkan hati, sedangkan bila ditilik dari segi isi, karya sastra memiliki nilai guna bagi siapa saja yang mampu mengapresiasikannya. Karya sastra bukan sekedar dibaca dan dihayati sebagai pengisi waktu, melainkan di dalamnya terkandung nilai-nilai yang bermakna bagi kehidupan.

Perkembangan seni sastra dapat dilihat dari zaman kuno, yaitu zaman sebelum ditemukannya tulisan, ketika manusia mengembangkan seni sastra melalui tradisi lisan yang diwariskan dari mulut ke mulut dan disampaikan dari seorang penutur kepada orang lain dalam bentuk cerita atau dongeng (cerita kancil yang mencuri timun petani), legenda (kisah batu menangis). Kemudian pada zaman aksara, seni sastra telah mulai dikembangkan dalam bentuk tulisan-tulisan atau karya sastra yang pada waktu itu ditulis pada daun lontar. Peninggalan-peninggalan tulisan kuno ini dapat kita lihat di beberapa museum seperti Trowulan, dan dapat pula kita saksikan tulisan kuno di museum Bali yang mengisahkan tentang kerajaan-kerajaan di Bali. Peninggalan-peninggalan tersebut menunjukkan kepada kita hasil karya seni sastra pada zaman Hindu-Buddha.

Bila kita cermati lebih lanjut, ternyata masih banyak karya sastra yang lain peninggalan zaman Hindu-Buddha yaitu:

  1. Bharatayuda karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh;
  2. Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh;
  3. Smaradhahana karya Mpu Darmaja;
  4. Wrattasancaya dan Lubdhaka karya Mpu Tanakung.

Pada akhir abad ke-16 sampai abad ke-17 masehi, pengaruh sastra Islam baru nampak dalam sastra Melayu Islam yang diterima sebagai unsur yang memperkaya, mendinamisir, serta mengangkat derajat sastra Melayu menjadi cukup tinggi. Dalam perkembangannya terjadi integrasi yang kokoh antara tradisi sastra Melayu dengan Islam.

Dalam sastra Melayu Islam muncul karya-karya Hamzah Fansuri seperti Asrar al-Arifin Syair Perahu,Syair Dagang, Syair Si Burung Pingai. Demikian pula karya-karya Ar-Raniri Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan Shirot al-Mustaqim Bustan al-Shalatin, juga karya Syamsudin Pase Mir’at al-Iman Mir’at al-Mu’minin, dan sebagainya.

Sastrawan-sastrawan Indonesia yang kita kenal antara lain:

  1. Chairil Anwar
  2. Sutan Takdir Alisyahbana
  3. H.B. Yasin
  4. Ajip Rosidi
  5. Hamka
  6. N. H. Dini
  7. Umar Kayam
  8. Sapardi Djoko Damono
  9. Taufik Ismail
  10. W. S. Rendra

Baca Juga :

Fungsi Seni Sastra

Fungsi Seni Sastra

Fungsi Seni Sastra

Fungsi Seni Sastra

vds.co.id – Seni sastra, diwujudkan dalam bentuk karya sastra, memiliki beberapa fungsi penting dalam masyarakat, termasuk:

a) Sarana menyampaikan pesan moral

Antara lain, penulis menulis karya sastra untuk menyampaikan model kehidupan yang diidealkan dan diwakili dalam cerita dengan karakter. Dengan karya sastranya, penulis menyampaikan pesan-pesan moral yang berhubungan dengan kualitas mulia kemanusiaan dan memperjuangkan hak asasi manusia dan martabat. Kualitas-kualitas ini pada dasarnya bersifat universal, yang berarti bahwa semua itu diyakini oleh semua orang. Pembaca diharapkan melakukan keadilan untuk properti ini dan kemudian menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Moralitas dalam sastra atau kebijaksanaan yang diberikan oleh penulis selalu dalam arti yang baik karena pada awalnya semua karya sastra baik. Jika cerita menunjukkan sikap dan perilaku karakter yang tidak terpuji, baik sebagai antagonis maupun sebagai protagonis, itu tidak berarti bahwa penulis menyarankan perilaku tersebut. Pembaca diharapkan untuk mengambil kebijaksanaan mereka sendiri dari sejarah. Sesuatu yang baik bahkan lebih terlihat ketika berhadapan dengan sesuatu yang buruk.

b) sarana kritik

Seni sastra, khususnya sastra tertulis, dapat menjadi sarana menyampaikan kritik terhadap fenomena sosial dan politik di masyarakat. Misalnya, novel atau puisi yang berhubungan dengan masalah kemiskinan, perbedaan gender antara pria dan wanita atau ketimpangan sosial. Sastra membuat komunitas membaca berempati dan kepribadian, yang pada gilirannya terinspirasi untuk membantu memecahkan masalah sosial ini.

c) Promosi nasionalisme dan penghormatan terhadap budaya daerah

Sebagai bagian dari budaya nasional, seni sastra Indonesia adalah sarana ekspresi budaya dalam konteks upaya untuk meningkatkan kesadaran sejarah dan semangat nasionalisme. Semangat nasionalisme dalam seni sastra tidak hanya menjadi topik selama periode revolusioner, tetapi juga di era globalisasi, yang dapat mengancam fondasi nasionalisme.